Dua Sektor UMKM Ini Diprediksi Bakal Berjaya di Tahun 2020 yang Menantang

Di tahun 2020 ini, terdapat dua sektor usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) yang diprediksi akan bertahan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Kedua sektor usaha tersebut adalah kuliner dan fashion.

Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) M Ikhsan Ingratubun menyebutkan dua sektor ini mampu bertahan karena menggunakan bahan baku dalam negeri yang mampu menekan biaya.

“Sektor yang bisa bertahan itu ya di sektor kuliner dan fashion. Kenapa hanya sektor ini? Karena dua sektor ini yang tidak bergantung pada produk impor untuk bahan bakunya,” kata Ikhsan kepada Kompas.com, Kamis (2/1/2020).

Adapun jenis UMKM yang bakal bertahan di tahun 2020 adalah jenis kuliner seperti produk olahan protein hewani (ayam) dan warung kopi.

“Ya seperti warung kopi dan produk ayam masih bertahan. Karena untuk produk kuliner memang taste masyarakat kita masih primadona untuk kuliner khas Indonesia,” katanya.

Hal ini juga dibenarkan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki.

Beberapa waktu lalu, Teten menyebut usaha di sektor makanan dan minuman atau F&B akan sangat diminati dan mampu bertumbuh di tahun 2020.

“Di sektor menengah itu, yang lagi growing terutama di sektor makanan dan minuman, apalagi investor banyak yang bertanya, sektor unggul mana yang bisa cocok ditanamkan investasi?” jelas Teten.

Teten menjelaskan di sektor kopi sudah masuk investasi asing sebesar 7 juta dollar AS sampai dengan 9 juta dollar AS per akhir tahun 2019. Hal ini terlihat dari salah satu UMKM yang mendapat pendanaan asing seperti brand Kopi Kenangan pada akhir tahun lalu.

Sementara untuk UMKM di sektor fashion, dinilai Ikhsan mampu bertahan karena bahan baku tekstil sudah bisa diolah dalam negeri.

“Fashion itu kita kan produksi tekstilnya besar. Misalkan saja produksi tekstil dari Jawa Barat. Kita mampu memproduksi bahan baku. Dengan itu, maka kita bisa mereduce cost dan kita bisa berjualan barang dengan harga murah,” ungkap Ikhsan.

Di sisi lain, Ikhsan mengeluhkan beragam tarif mengalami kenaikan. Yang mana, ini dinilai akan menyulitkan UMKM bersaing, karena biaya utamanya harus disesuaikan dengan harga jual produk.

“Tapi reduce cost ini berlawanan (dengan ketersediaan bahan baku lokal) karena ada beberapa kenaikan biaya seperti biaya listrik naik, walaupun yang 900 VA batal naik, yang di atas 900 VA bagaimana? Tarif tol dan transportasi juga naik, sehingga UMKM kita enggak mampu bersaing di negeri sendiri,” ungkapnya. (*)

Sumber : kompas

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *