TALKSHOW : QRIS, Cara Transaksi yang Aman di Kala Pandemi

SLEMAN – Sebanyak 137 ribu merchant dan UKM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Ini merupakan metode pembayaran non tunai dengan menggunakan QR Code. Secara sistem, QRIS adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang menggunakan QR Code. QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya.

Penggunaan QRIS ini dinilai kian strategis kala pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Lantaran metode pembayaran non tunai ini bisa menjadi solusi dalam memutus mata rantai penularan covid yang bisa menyebar melalui uang kartal dari orang ke orang.

“Covid membutuhkan transaksi yang meminimalkan pembayaran secara tunai, sehingga kemunculan QRIS ini menjadi salah satu upaya Bank Sentral untuk turut meminimalkan penyebaran covid,” kata Deputi Kepala Perwanilan Bank Indonesia DIY, Miyono dalam acara Talkshow bertajuk “QRIS : Transaksi Aman di Kala Pandemi” di Jogja City Mall (JCM) pada Sabtu (5/12/2020).

Miyono mengungkapkan bahwa Jogja termasuk daerah dengan pertumbuhan penggunaan QRIS yang luar biasa. Peningkatannya hampir mencapai 300 persen. Total, sudah ada 137 ribu merchant yang menggunakan fitur tersebut.

Ia berharap masyarakat semakin terbiasa menggunakan teknologi ini, terutama di kala pandemi seperti sekarang ini.

Senada, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sleman, Pustopo mengakui bahwa transaksi keuangan terutama di kalangan pelaku UKM di Sleman telah menjadi salah satu perhatian pihak pemerintahan daerah. Dirinya yakin, teknologi QRIS ini bisa menjadi salah satu langkah dalam meminimalisir penularan covid saat transaksi.

Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman sendiri terus menggenjot geliat perekonomian para pelaku UKM di Sleman yang memang merupakan salah satu sektor yang terpukul akibat pandemi covid. Di Sleman sendiri sudah ada 68 ribu UKM yang tercatat. Jumlahnya kemungkinan bertambah lantaran dimungkinkan masih banyak yang belum melakukan pendataan.

“Kami memiliki kepentingan bagaimana perekonomian terus bergerak, masyarakat bisa bangkit dan di saat bersamaan juga menekan supaya tidak ada klaster-klaster baru penyebaran covid. Dengan cara penerapan protokol kesehatan secara ketat,” paparnya.

Salah satu yang saat ini sedang dilakukan Sleman adalah dengan menggelar Festival UMKM Sembada 3 di Jogja City Mall. Pameran ini juga digelar secara online melalui aplikasi android. Pameran tersebut, digelar dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat serta atas izin dari Satgas Covid-19 Sleman.

“Security kami briefing ketat, dinas pun semua di-rapid. Dan hasilnya semua negatif,” tandasnya.

Terkait hal itu, Ketua Gugus Tugas Covid-19 Sleman Joko Hastaryo mengakui bahwa penyelenggaraan pameran seperti di Mal ini memang sudah sangat baik. Banyak penyesuaian-penyesuaian yang sudah dilakukan menyangkut adaptasi kebiasaan baru.

Ia mencontohkan semisal tombol lift yang kini sudah diganti dengan kick pedal, tombol parkir yang biasanya harus disentuh kini diganti dengan sensor gerak. Serta kebiasaan-kebiasaan baru lainnya.

Joko membenarkan bahwa ada dua hal utama yang menjadi fokus di kala pandemi ini. Pertama memutus mata rantai penyebaran covid, dan kedua memastikan perekonomian tetap berjalan.

“Harus ada keseimbangan, kegiatan perekonomian harus bangkit tapi di sisi lain protokol kesehatan harus tetap diterapkan. Sampai aspek detail seperti dalam metode transaksi keuangan cashless,” paparnya.

Sehingga metode pembayaran menggunakan QRIS pun menurut Joko adalah salah satu cara yang tepat di kala pandemi ini. Apalagi, Sleman sendiri memiliki jumlah UKM yang begitu banyak.

“Ini patut kita syukuri bahwa semua pihak itu visinya sama, artinya stabil dalam hal ekonomi dan juga kesehatan. Kesehatan dan penguatan ekonomi harus berjalan beriringan,” kata Pustopo menimpali. (*)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *